Korban SK 188, Syahbudin Butuh Perhatian Untuk Tidurpun Susah Akibat Rumah Nyaris Ambruk

BIMA, KabaroposisiNTB. COM---Kisah peristiwa SK 188 yang memakan banyak korban 2011 Silam yang menjadi Lambu Berdarah mengisahkan kisah sedih bagi Syahbudin, tempat tanggal lahir Parangina 03/10/1980, RT 011 / RW 005 dusun Oi wontu, Desa Soro kecamatan lambu kabupaten Bima. 

Dikutip dari media Dinamika Global, Kisah Syahbudin yang rumahnya Yaris Roboh ini 
menjadi topik pembicaraan hangat dikalangan masyarakat dan media sosial Medsos Facebook.

Adapun warga net yang turut memprihatinkan dan menuliskan sesuatu dalam status akun Facebook miliknya."Bagaimana Aku Bisa Tidur Nyenyak Sedang Saudara Kita Tidak Bisa Tidur Nyenyak Dan bagaimana Aku Bisa Makan Enak Sedangkan Saudara Kita Dalam Kesusahan. Jadi Marilah Kita Sama-sama Membantu Atau Mendonasikan Sedikit Rezekinya Kita Untuk Membantu untuk Meringankan Beban Saudara Kita Ustadz Syahbudin, 

Mungkin dengan cara ini mari kita meringankan beban Saudara kita Ini Akan Menjadi Amal Jariyah di Akhir Kelak Nanti, Amin Amin Ya Rabbal Alamin. 

"Desa Soro Kecamatan Lambu RT 11 RW 05 Dusun Oi Wontu". Dan ratusan kali sudah dibagikan.

Akibat begitu viral, akhirnya Wartawan Media ini melakukan konfirmasi, dan klarifikasi serta meminta tanggapan, bapak Ustadz Syahbudin. Guna memastikan kebenarannya tentang kehidupan sehari-hari, juga mengenai rumah hampir ambruk.

Saat dikonfirmasi melalui via telepon seluler milik saudara Munir Putra, sejak kapan kaki pak Syahbudin pincang dan berapa lama tinggal sendirian.

Pak Syahbudin pun menjawab, pertanyaan wartawan, " terkait persoalan mengakibatkan kaki saya seperti ini, karena memperjuangkan kepentingan masyarakat Lambu, pada kisah peristiwa SK 188 kala itu".

Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan saat peristiwa SK 188, yang menjadi lambu berdarah pada tahun 2011 silam. 

"Saking tragisnya lambu berdarah saat itu. Kaki Saya pun terkena benturan keras oleh batang Laras panjang. Namun keadaan seperti ini susah mencari rezeki untuk keperluan sehari-hari saja tidak mampu", sampai rumah yang ditempatinya nyaris roboh.

Perlu diketahui oleh khalayak, jika melihat dengan kasat mata keluarga ini apalagi tinggal sendirian, sangat layak untuk menerima program bantuan dari pemerintah, seperti halnya program bantuan perumahan swadaya (BSPS) dan rumah tidak layak huni (RTLH). 

Setiap harinya ustadz Syahbudin tidak ada kerjaan tetap untuk dapat bertahan hidup, melalui pemberitaan ini diharapkan baik kepada pemerintah, mulai dari tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten bahkan donatur agar berkenan mengulurkan tangannya membantu memperbaiki rumah Syahbudin agar layak untuk dihuni, sehingga "beliau juga" yang hidup sebatang kara ini bisa merasa tenang jika berada di dalam rumahnya.

Dapat kita bayangkan perasaan cemasnya dikala musim penghujan tiba, pasti rumah ini nyaris tidak ada tempat yang kering di dalamnya, ketika ada angin kencang pastilah pemiliknya ketakutan karena kondisi rumah sudah dalam katagori rusak berat.

Dalam kesempatan terakhirnya, dengan nada lirih penuh dengan linangan air mata, ustadz Syahbudin menambahkan, bukanya tidak ada niat untuk memperbaiki tempat tinggalnya, jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk dapat makan sehari hari saja sangatlah sulit, karena saya tidak ada pekerjaan yang menentu". Ujarnya. 

Saya hanya berharap suatu saat nanti ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah agar layak untuk dihuni. pungkasnya.

Yang mana beliau dikategorikan sebagai penyandang disabilitas, mengingat kakinya pincang. Hal ini Agar sesuatu yang tidak diinginkan dapat dihindari, contoh seperti rumah ambruk saat penghuninya sedang dalam keadaan tertidur, sedangkan semua tahu bahwa rumah tersebut sudah tidak layak lagi untuk dihuni.(RED)

No comments

Powered by Blogger.